
Semarang, 14 Februari 2025 – Mata Air Blondo, yang terletak di Desa Nogosaren, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, merupakan salah satu kekayaan alam yang tidak hanya memiliki nilai ekologis tinggi tetapi juga kaya akan sejarah dan tradisi budaya. Mata air ini menjadi pusat perhatian masyarakat desa karena keberadaannya yang tetap mengalir hingga kini tanpa tergantung pada aliran dari mata air lain.

Sejarah dan Kepercayaan Lokal
Berdasarkan kepercayaan masyarakat setempat, Mata Air Blondo dipercaya sebagai petilasan Dewi Anjani, sosok legenda Jawa yang sering dikaitkan dengan kisah-kisah spiritual dan kesaktian. Selain itu, di sekitar kawasan ini juga terdapat Gua Wanoro, yang dianggap memiliki aura mistis dan menjadi bagian dari sejarah Desa Nogosaren.
Tidak hanya itu, beberapa warga juga mengaitkan Mata Air Blondo dengan Makam Mbah Kyai Sudonoyo, tokoh yang dipercaya sebagai sesepuh dan cikal bakal berdirinya Desa Nogosaren. Keberadaan tokoh ini menambah kuatnya nilai sejarah dan spiritual yang melekat pada mata air tersebut.
Susuk Wangan: Tradisi Pelestarian Mata Air
Untuk menjaga kelestarian Mata Air Blondo, masyarakat Desa Nogosaren melaksanakan tradisi tahunan yang dikenal sebagai Susuk Wangan. Tradisi ini merupakan kegiatan gotong royong yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat desa dalam membersihkan dan merawat kawasan sekitar mata air.
Susuk Wangan memiliki makna yang sangat mendalam. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam, kegiatan ini juga bertujuan untuk menjaga keberlangsungan sumber air bersih yang menjadi sumber kehidupan bagi warga desa. Generasi tua dan muda turut berpartisipasi, menjadikan tradisi ini sebagai ajang edukasi dan warisan nilai-nilai budaya kepada generasi penerus.
Pentingnya Pelestarian Mata Air
Dengan semakin meningkatnya isu lingkungan dan berkurangnya sumber daya air bersih di berbagai daerah, keberadaan Mata Air Blondo menjadi aset berharga bagi Desa Nogosaren. Kepala Desa Nogosaren, Ahmat As’ari, menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga mata air tersebut. “Susuk Wangan bukan hanya sebuah tradisi, tetapi juga bentuk nyata dari rasa syukur dan tanggung jawab kita terhadap alam yang telah memberikan kehidupan bagi kita semua,” ujarnya.

Harapan ke Depan
Tradisi Susuk Wangan diharapkan dapat terus dilestarikan oleh generasi muda Desa Nogosaren agar tidak punah ditelan zaman. Selain itu, keberadaan Mata Air Blondo juga berpotensi menjadi destinasi wisata berbasis ekologi dan budaya yang dapat memperkenalkan kekayaan alam dan tradisi lokal kepada masyarakat luar.
Untuk lebih mengenal tradisi ini dan keindahan alam Mata Air Blondo, Anda dapat menyaksikan video lengkapnya di kanal YouTube resmi Desa Nogosaren melalui tautan berikut: Mata Air Blondo di YouTube.
Melalui sinergi antara tradisi budaya dan pelestarian lingkungan, Desa Nogosaren terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga warisan leluhur dan ekosistem alam yang lestari.
One Response
Test Comment ….